Perang di Km 12 usai,
12 orang pahlawan gugur. Mereka adalah
- Ali Samid
- Jamher
- Saman Samin
- Kamsem
- A Madjid Gambang
- Karto Saleh
- Suardi Marsam alias Bugel
- Abdul Somad Tholib
- Adam Cholik
- Sulaiman Saimin
- Salim Adok
- Apip Adi
Untuk mengenal lebih
dekat ke 12 orang pejuang itu, berikut dipaparkan profil singkat Pahlawan 12 :
- Ali Samid
Salah seorang putra Bangka yang berasal dari Desa Nibung Koba. Semasa pemerintahan Jepang, Ali Samid Muda pernah bekerja sebagai pegawai Doane (pegawai pelabuhan) di Kota Agung Lampung. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Ali Samid pulang ke Koba. Mendengar kabar bahwa Belanda kembali akan menjajh negerinya, semangat juang Ali Samid bergelora. Ia kemudian bergabung dengan TRI yang dipimpin ayahnya yakni H Muhammad Nor.
Pada hari Kamis 14 Februari 1946, Ali Samid dan ayahnya H Muhammad Nor, berangkat ke Desa Petaling. Namun bapak dan anak ini ditempatkan dimedan perang yang terpisah. H Muhammad Nor bertugas memimpin pasukan di Km 16 Petaling sedangkan Ali Samid bergabung dengan TRI yang dipimpin oleh Kapten Munzir yang mengemban tugas menarik pasukan di Km 12 dan Km 16 untuk bertahan di Pangkalpinang. Namun tiba di Km 12, Ali Samid dan kawan-kawan diberondong senjata Belanda. Kamis, 14 Februari 1946 Ali Samid dan H Muhammad Nor gugur membela bangsa. Keduanya dimakamkan ditempat terpisah. H Muhammad Nor dimakamkan di TPU Desa Petaling, sedangkan Ali Samid dimakamkan satu lubang bersama sebelas pejuang lainnya di Km 12 Bukit Ma Andil. - Jamher
Berusia kurang lebih 22 tahun, berasal dari Julau Jawa bertempat tinggal di Sungailiat dan pernah mendapat didikan Heiho di zaman Jepang. Di Sungailiat, bersama sejumlah teman-temannya, Jamher bergabung menjadi anggota TRI.
Sama seperti Ali Samid, Jamher merupakan anak buah Kapten Munzir yang diperintahkan untuk menarik pasukan di Km 12 dan Km 16 Petaling. Pada saat diberondong peluru Belanda di Km 12, Jamher masih sempat menyelamatkan seorang rekannya yang nyaris menjadi sasaran tembak tentara Belanda. Pada saat Belanda siap menembak seoarang temannya itu, Jamher yang pada saat itu sudah tertembak berteriak keras sambil melindungi rekannya. Saat Jenazahnya ditemukan, mulut Jamher tampak seperti tersenyum. - Saman Samin
Saman Samin berasal dari TRI Kompi Koba berumur kurang lebih 40 tahun. Beliau seorang putra Bangka, namun tidak diketahui pasti dari desa mana. Sebelum bergabung dengan TRI, Saman Samin hanya seorang petani. Karena dorongan semangat berjuang Saman Samin meninggalkan kebunnya dan berjuang bersama TRI. Kamis 14 Februari 1946, ia ditugaskan mendampingi Kapten Munzir untu menarik pasukan di Km 12 dan Km 16 Petaling. - Kamsem
Berasal dari Semarang Jawa Tengah berumur antara 20-22 tahun. Kamsem ditugaskan ke Bangka bersama beberapa TRI dari Palembang untuk membantu kekuatan TRI di Bangka. Ia ditugaskan di Pangkalpinang dan bersama Kapten Munzir hendak menarik pasukan di Km 12 dan Km 16 Petaling. - A Madjid Gambang
A Madjid Gambang merupakan TRI dari kompi Belinyu, kelahiran Pangkalpinang, beliau seorang pejuang yang terkenal pemberani dan berwatak keras. Jiwa patriotiknya sudah tertanam sejak kecil. Selalu mengutamakan kepentingan bangsa daripada kepentingan keluarga. A Madjid Gambang termasuk TRI pilihan, bersam 19 orang TRI lainnya, ia masuk dalam jajran inti Pasukan Berani Mati (PBM) yamg bermarkas di belinyu pimpinan Kapten Saman Idris. Berdasarkan nama ke 20 orang anggota PBM yang dipimpin Kapten Saman Idris, A Madjid Gambang merupakan satu-satunya anggota PBM yang gugur di KM 12. Ia gugur dalam usia yang masih sangat muda, kurang lebih 21 tahun.
- Karto Saleh
Karto Saleh lahir di Desa Petaling Kecamatan Mendobarat, usianya kurang lebih 21 tahun. Ayahnya bernama Saleh asalPulau Jawa yang saat itu menjadi penghulu di Desa Petaling. Sedangkan ibunya bernama Jar, Warga Desa Petaling. Saat terjadi pertempuran di Km 12, Karto yang merupakan anak buah Munzir Thalib ini mendapat perintah menarik pasukan TRI di Km 12 untuk kemudian bertahan di Kota Pangkalpinang. Namun begitu tiba di Km 12, Karto yang saat itu sebagai sopir yang membawa Munzir dan lima orang TRI lainnya langsung diberondong oleh tentara Belanda. Karto, putra Desa Petaling itu gugur di tempat. Beliau mengalami luka tembak di bagian kening, tepat diantara kedua matanya. - Suardi Marsam alias Bugel
Jiwa patriotiknya mulai terpupuk saat ia menjadi anggota Heiho. Ketika Heiho dibubarkar, pejuang yang berasal dari Kampung Jawa Belinyu ini bergabung dengan TRI Kompi Belinyu. Suardi yang akrab dipanggil Bugel berwatak keras pantang menyerah. Ia pernah keluar dari TRI tanpa diketahui alasan yang jelas. Namun pada saat mengetahui rencana Belanda untuk kembali menguasai pulau Bangka, semangat patriotik suardi berkobar dan memutuskan untuk bergabung kembali dengan TRI. Ia gugur dalam usia yang masih muda, kurang lebih 22 tahun. - Abdul Somad Tholib
Sebelum bergabung dengan TRI Bangka, Abdul Somad Tholib menjadi anggota Heiho dan bertugas di Palembang. Ketika Heiho dibubarkan, Abdul Somad Tholib pulang ke kampung halamannya yakni Kampung Jawa Belinyu. Di Belinyu ia bersam asejumlah rekannya bergabung menjadi anggota TRI. Pada tanggal 14 Februari 1947, Abdul Somad Tholib gugur membela bangsa dalam usia antara 20-22 tahun. - Adam Cholik
Adam Cholik juga berasal dari Kampung Jawa Belinyu. Seperti halnya Abdul Samad Tholib, Adam Cholik juga pernah ditugaskan di Kota Palembang sebagai anggota Heiho. Ketika RI merdeka, Heiho dibubarkan, Adam Cholik dipulangkan ke kampung halamannya. - Sulaiman Saimin
Sulaiman Saimin adalah sosok pribadi pendiam namun memeiliki semangat juang yang berkobar. Beliau juga mantan anggota Heiho dari Palembang dan kemudian bergabung dengan Kompi TRI Belinyu. Dalam perjalanan saat hendak menuju medan perang Km 12, Sulaiman sempat dicegat oleh Saimin ayahnya agar Sulaiman mengurungkan niatnya untuk bertempur. Namun demi sebuah perjuangan, Sulaiman putra Kampung Jawa Belinyu ini tidak menghiraukan bujukan ayahnya. Dia terus melanjutkan perjalanan ke Km 12 Petaling bersama TRI serta Pasukan Berani Mati dari Kompi Belinyu.
Beberapa hari sebelum berangkat ke Km 12 Petaling, Sulaiman berjanji dengan kekasihnya seorang warga keturunan, untuk menikahi gadis itu sepulang dari medan perang. Hal ini pula yang sebenarnya membuat ayah Sulaiman memeinta anaknya itu untuk tidak ikut bertempur lantarana hendak dikawinkan. Namun janji suci itu tidak tersampaikan, Sulaiman gugur setelah sebutir peluru menembus keningnya. Ia dikuburkan dalam satu lubang bersama 11 pejuang yang gugur lainnya. Ketika dilakukan penggalian dan pemindahan kerangka keduabelas pahlawan itu pada tanggal 8 November 1973, salah satu kerangka (tengkorak) yang masih dikenali oleh pihak keluarga pejuang adalah kerangka Sulaiman. Saat digali tengkorak kepalanya masih utuh danditemukan sebuah gigi emas yang masih melekat di rahang atas tengkorak. Gigi emas ini pula yang menjadi petunjuk bagi keluarganya mengenal tengkorak Sulaiman. - Salim Adok
Tak banyak yang mengetahui asal ususl beliau termasuk kiprah perjuangannya. Namun dalam catatan perjuangan Muchtar Cholik, Salim Adok merupakan anggota TRI Kompi Belinyu. - Apip Adi
Usianya diperkirakan sekitar 20 tahun. Apip Adi berasal dari Desa Air Duren Kecamatan Mendobarat. Menurut keterangan Yohansyahsalah seorang keponakan Apip Adi, saat bertempur di Km 12, kondisis Apip Adi sedang tidah sehat badan. Sementara keterangan dari H Separdi dan Daud (alm), saat bertempur melawan Belanda, Apip Adi naik diatas pohon cempedak tak jauh dari sisi jalan. Beliau banyak menembak tewas tentara Belanda. Saat jenazahnya diketemukan, tubuh Apip Adi dipenuhi peluru. Ia tertembak saat sedang melakukan perlawanan sengit dari atas pohon cempedak.
“Saya merasa ngeri saat melihat jenazah beliau. Tubuhnya dipenuhi bekas tembakan dan peluru. Ia seorang pejuang yang gigih takpantang menyerah,” kenang H Separdi yang mengaku hadir saat pemakaman Apip Adi dan 11 orang rekannya, pada hari Kamis malam 14 Februari 1946.
Sumber : Mokoginta Dasin, Ichsan dan Dody
Hendriyanto. 2009. Palagan 12: Api Juang
Rakyat Bangka. Pangkalpinang: CV Central Media Printing.
0 comments:
Post a Comment